Jumat, 02 Mei 2008

MENGAPA BELAJAR JADI SUSAH?

Yang namanya belajar diapa-apain juga kalah ama final fantasi, boys dont cry and mall. Baru nyerah kalau besoknya ada ulangan. Tapi jangan salah, ada juga yang nyante aja, brangkat pagi cari posisi, beres or, nulis contekan pakai kaca pembesar (abis nulisnya kecil banget seh).

Anyway, walaupun begitu masih lebih banyak kok di antara kita yang merasa kalau belajar itu harus dan perlu. Nah, di bawah ini ada lima hal yang harus kamu kenali yang biasanya membuat kamu be-te untuk belajar. Dengan mengenali lima hal ini, berarti udah separo jalan buat belajar.

1. Kebayang guru yang ngajar
Seringkali, karena cara ngebawainnya engga cool, membuat pelajaran yang diberikan jadi nggak masuk. Belum lagi kalo gurunya terkenal killer atau super cuek. Wah yebelin banget, penolakan terhadap guru ini secara engga langsung membuat males belajar

2. Image pelajaran susah
Ini juga, belum-belum udah kalah sebelum bertanding pokoknya susah aja, padahal belum tentu kan? Asal tahu aja, semua pelajaran yang diberikan itu udah disesuaikan dengan taraf belajar dan umur kita.

3. Enggak pernah ngikutin serius
Ini yang nggak fair, kenapa juga kagak serius ngikutinnya. Hal kayak gini ini yang perlu dirubah, kaga pernah terlambat buat memulai, itu semboyannya.

3. Kaga interest
Wah ujung-ujungnya pasti kalau ditanya jawabnya begitu, alasannya? Alasan lain, merasa kalau kaga efek buat kita-kita? Mungkin karena kita kaga tau mesti buat apaan ilmu-ilmu yang kita dapat itu? Padahal dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai hal-hal yang merupakan aplikasi dari ilmu-ilmu yang kita pelajari. Contohnya, gimana sih kok internet bisa nyambung sampai kamu bisa ngebacanya ? ini juga tantangan loh!!

4. Kaga punya buku
Yang ini kaga usah diomongin, kamu bisa fotokopi, pinjem atau nyuri (asal siap-siap aja ketangkep) Yang terakhir ini sangat-sangat kaga dianjurin dan inget dosa!!
Nah, yang pertama sekali tumbuhkan interest pada diri kamu. Cari tahu nantinya buat apa ilmu yang kamu pelajari, dengan begitu akan ada tantangan untuk mengetahui lebih banyak. Buang deh perasaan nyerah duluan, modalnya satu ‘nekad!!’ Orang kaga rugi, nothing to loose lah. Kalau udah gitu baru buka tuh buku.

Agama Menghadapi Perubahan Nilai

ERA informasi dan globalisasi sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah berdampak hampir ke semua aspek kehidupan masyarakat. Susanto (1998:109) menyebutkan, perubahan masyarakat akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut membawa dampak yang besar pada budaya, nilai, dan agama. Nilai-nilai yang sementara ini dipegang kuat oleh masyarakat mulai bergeser dan ditinggalkan. Sementara nilai-nilai yang menggantikannya tidak selalu sejalan dengan landasan kepercayaan atau keyakinan masyarakat, sehingga penyimpangan nilai kian subur dan berkembang.

Dalam situasi seperti ini, remaja dan mahasiswa yang sedang berada dalam kondisi psikologis yang labil menjadi korban pertama sebagaimana terjadi dalam berbagai kasus hedonisme, konsumerisme, hingga peningkatan kenakalan remaja dan narkotika. Hal ini semakin membuktikan bahwa nilai-nilai hidup tengah bergeser sehingga membingungkan para remaja, menjauhkan mereka dari sikap manusia yang berkepribadian (Poespoprodjo,1988:45).

Laporan hasil polling Indonesia Foundation (Pikiran Rakyat,29/7 2005) menyebutkan, sedikitnya 38.288 orang remaja di Kabupaten Bandung diduga pernah melakukan seks pranikah. Jika jumlah remaja di Kabupaten Bandung mencapai 765.762 orang, mereka yang telah melakukan pelanggaran seksual sebesar 50,56%. Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Dr. Siswanto Agus Wilopo, S.U., M.Sc., Sc.D. sebagaimana dilaporkan Pikiran Rakyat (Bandung, 6 April 2006) mengatakan, aborsi di Indonesia terjadi 2-2,6 juta kasus per tahun dan dilakukan oleh penduduk usia 15-24 tahun. Selanjutnya ia menyarankan bahwa upaya preventif yang paling mendasar untuk mencegah aborsi oleh remaja dapat dilakukan melalui pengajaran norma-norma, budi pekerti, agama, dan moralitas yang bertanggung jawab dalam perilaku seksual.

Laporan tersebut menunjukkan, bahwa remaja kita, khususnya para pelajar dan mahasiswa sedang mengalami proses kegalauan nilai yang parah di mana pendidikan sebagai pembinaan nilai dan moral dituntut untuk dapat menanggulangi dan mengantisipasinya sehingga masa depan bangsa dapat diselamatkan. Berbagai fenomena pelanggaran moral di kalangan pelajar dan mahasiswa membuat khawatir sebagian besar masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Pendidikan moral yang selama ini menjadi garapan pendidikan dalam keluarga mulai dirasakan hampa makna, mengingat orang tua tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Sementara sekolah dan perguruan tinggi, padat dengan pencapaian tujuan kurikulum yang menonjolkan aspek kognitif. Output pendidikan lebih banyak menghasilkan pengetahuan, tetapi tidak mampu menghadapi tantangan hidup dan kehidupan (survive). Standar moral dan spiritual anak nyaris tanpa sentuhan, sehingga nilai dan norma yang tertanam pada diri anak hanya sesuatu yang absurd.

Rendahnya pendidikan masyarakat, sistem pendidikan yang tidak mapan, struktur ekonomi yang keropos, serta jati diri bangsa yang belum terinternalisasikan, menjadikan bangsa rentan terhadap nilai-nilai baru yang datang dari luar. Nilai-nilai Barat yang sebagian berseberangan dengan nilai-nilai ketimuran dengan mudah diadopsi, terutama oleh generasi muda. Nilai yang mudah ditiru pada umumnya adalah nilai-nilai yang berisi kesenangan, permainan, dan hedonisme yang sering kali membawa dampak buruk. Sebaliknya, nilai-nilai positif dari Barat seperti kecerdasan dan kemajuan iptek tidak dicerap dengan baik. Menghadapi persoalan tersebut, di kalangan ahli pendidikan sepakat untuk membina dan mengembangkan pendidikan nilai, moral, dan norma.

Nilai adalah patokan normatif yang memengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif (Kupperman, 1983). Nilai dilihat dalam posisinya adalah subjektif, yakni setiap orang sesuai dengan kemampuannya dalam menilai sesuatu fakta cenderung melahirkan nilai dan tindakan yang berbeda. Dalam lingkup yang lebih luas, nilai dapat merujuk kepada sekumpulan kebaikan yang disepakati bersama. Ketika kebaikan itu menjadi aturan atau menjadi kaidah yang dipakai sebagai tolok ukur dalam menilai sesuatu, maka itulah yang disebut norma. Jadi nilai adalah harga yang dituju dari sesuatu perilaku yang sesuai dengan norma yang disepakati. Sedangkan moral adalah kebiasaan atau cara hidup yang terikat pada pertanggungjawaban seseorang terhadap orang lain sehingga kebebasan dan tanggung jawab menjadi syarat mutlak.

Nilai, moral, dan norma merujuk kepada kesepakatan dari suatu masyarakat. Karena itu, nilai, moral, dan norma akan berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat (relatif). Agama dipandang sebagai sumber nilai karena agama berbicara baik dan buruk, benar, dan salah. Demikian pula, agama Islam memuat ajaran normatif yang berbicara tentang kebaikan yang seyogianya dilakukan manusia dan keburukan yang harus dihindarkannya. Islam memandang manusia sebagai subjek yang paling penting di muka bumi sebagaimana diungkapkan Alquran (Q.S. 45:13) bahwa Allah menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi untuk manusia. Sedangkan ketinggian kedudukan manusia terletak pada ketakwaannya, yakni aktivitas yang konsisten kepada nilai-nilai Ilahiah yang diimplementasikan dalam kehidupan sosial.

Dilihat dari asal datangnya nilai, dalam perspektif Islam terdapat dua sumber nilai, yakni Tuhan dan manusia. Nilai yang datang dari Tuhan adalah ajaran-ajaran tentang kebaikan yang terdapat dalam kitab suci. Nilai yang merupakan firman Tuhan bersifat mutlak, tetapi implementasinya dalam bentuk perilaku merupakan penafsiran terhadap firman tersebut bersifat relatif.

Menelusuri makna nilai dalam perspektif Islam dapat dikemukakan konsep-konsep tentang kebaikan yang ditemukan dalam Alquran. Beberapa istilah dalam Alquran yang berkaitan dengan kebaikan, yaitu alhaq dan al-ma'ruf serta lawan kebaikan yang diungkapkan dalam istilah albathil, dan almunkar. Haq atau alhaq menurut pengertian bahasa adalah truth; reality; rightness, correctness; certainty, certitude dan real, true; authentic, genuine; right, correct, just, fair; sound, valid.

Alhaq diulang dalam Alquran sebanyak 109 kali. Alhaq mengandung arti kebenaran yang datang dari Allah, sesuatu yang pasti seperti datangnya hari akhir, dan lawan dari kebatilan. Alhaq dalam Alquran dikaitkan dengan Alquran sebagai bentuk sumber dan Muhammad sebagai pembawa yang menyampaikannya kepada manusia. Haq adalah kebenaran yang bersifat mutlak dan datang dari Tuhan melalui wahyu. Manusia diminta untuk menerima dengan tidak ragu-ragu mengenai kebenaran nilai tersebut (Q.S. 2:147). Haq bersifat normatif, global, dan abstrak sehingga memerlukan penjabaran sehingga dapat dilaksanakan secara operasional oleh manusia.

Sejalan dengan perkembangan budaya dan pola berpikir masyarakat yang materialistis dan sekularis, maka nilai yang bersumberkan agama belum diupayakan secara optimal. Agama dipandang sebagai salah satu aspek kehidupan yang hanya berkaitan dengan aspek pribadi dan dalam bentuk ritual, karena itu nilai agama hanya menjadi salah satu bagian dari sistem nilai budaya; tidak mendasari nilai budaya secara keseluruhan.

Pelaksanaan ajaran agama dipandang cukup dengan melaksanakan ritual agama, sementara aspek ekonomi, sosial, dan budaya lainnya terlepas dari nilai-nilai agama penganutnya atau dengan kata lain pelaksanaan ritual agama (ibadah) oleh seseorang terlepas dari perilaku sosialnya. Padahal, ibadah itu sendiri memiliki nilai sosial yang harus melekat pada orang yang melaksanakannya, misalnya orang yang salat ditandai dengan perilaku menjauhkan dosa dan kemunkaran, puasa mendorong orang untuk sabar, tidak emosional, tekun, dan tahan uji.

Aktualisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sekarang ini menjadi sangat penting terutama dalam memberikan isi dan makna kepada nilai, moral, dan norma masyarakat. Apalagi pada masyarakat Indonesia yang sedang dalam masa pancaroba ini. Aktualisasi nilai dilakukan dengan mengartikulasikan nilai-nilai ibadah yang bersifat ritual menjadi aktivitas dan perilaku moral masyarakat sebagai bentuk dari kesalehan sosial.

TIPS UJIAN DI SMA

Sukses atau gagalnya ujian yang kamu hadapi tergantung dari persiapan fisik dan mental kamu (tentunya selain kamu udah belajar giat). Dibawah ini beberapa tips yang mungkin dapat membatu kamu dalam menghadapi ujian.

1. Siapkan peralatan ujian dengan baik
Biasanya setiap ujian membutuhkan peralatan berbeda-beda. Misalkan ujian gambar berbeda denagn ujian tertulis biasa. Peralatan ujian yang biasa dibawa adalah pendil, pulpen, kalkulator, kamus, penghapus, tip ex, dan penggaris.

2. Datanglah lebih cepat sebelum ujian dilaksanakan.
Dengan datang lebih awal (minimal 15 menit sebelum ujian dilaksanakan), kamu akan punya waktu untuk mempersiapkan mental dan fisikmu yang akhirnya akan membantumu untuk lebih berkonsentrasi selama mengerjakan ujian.

3. Tenang dan percaya diri.
Sebelum mengerjakan ujian, biasakan untuk berdoa. Dengan berdoa kamu akan lebih percaya diri dan siap mengerjakan ujian.

4. Jangan Tegang Santailah dalam mengerjakan setiap ujian.
Sebab kondisi tegang saat ujian akan merusak konsentrasimu.

5. Membaca Perintah Ujian
Sebelum mulai mengerjakan ujian, bacalah perintah soal ujian dengan baik dan tidak terburu-buru. Sebab seringkali perintah untuk menjawab tidak sesuai dengan ujian yang lainnya.

6. Seleksi soal
Seleksi soal maksudnya adalah seleksilah soal yang kamu anggap mudah/bisa dengan cepat menjawabnya. Hal ini akan membantumu mengurangi pemborosan waktu menjawab.

7. Metode menjawab
* Soal-soal pilihan ganda
Langsung abaikan jawaban yang kamu tahu salah. Jangan menebak suatu pilihan jawaban ketika kamu tidak mengetahui secara pasti dan ketika hukuman pengurangan nilai digunakan. Karena pilihan pertama akan jawabanmu biasanya benar, jangan menggantinya kecuali bila kamu yakin akan koreksi yang kamu lakukan.
* Soal ujian esai
Pikirkan dulu jawabannya sebelum menulis. Buatlah kerangka jawaban singkat untuk esai dengan mencatat dulu beberapa ide yang ingin kamu tulis. Kemudian nomori ide-ide tersebut untuk mengurutkan mana yang hendak kamu tuliskan lebih dahulu. Usahakan untuk menuliskan secara langsung point pertama dari jawaban sehingga jawabanbu tidak akan melenceng kemana-mana.

8. Baca Kembali

Bacalah kembali jawaban yang sudah kamu tulis, sehingga jika ada kekurangan kamu akan dapat segera memperbaikinya.

9. Jangan terburu-buru
Jangan pernah mengerjakan ujian secara terburu-buru. Hal ini menyebabkan jawaban ujianmu tidak bisa maksimal. Jika sudah selesai mengerjakanpun, jangan terburu-buru keluar ruangan. Pergunakan sisa waktu ujian untuk memeriksa
kembali jawabanmu.

10. Tutup dengan Doa
Sebagaimana kamu berdoa untuk mulai mengerjakan ujian, berdoalah juga setelah selesai mengerjakan. Semoga apa yang sudah kamu kerjakan benar dan mendapat nilai yang baik

Hal hal yang mempengaruhi Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah:

  1. PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN
    Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya.Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Dalam Mangala Sutta, Sang Buddha bersabda: “Tak bergaul dengan orang tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana, itulah Berkah Utama”. Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya.

    Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman yang baik.

    Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati, menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita lengah, memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya, tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan membantu sanak keluarga kita.

    Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi penjudi, orang yang tidak bermoral, pemabuk, penipu, dan pelanggar hukum.

  2. PENDIDIKAN
    Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.

    Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobi si anak. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan.

  3. PENGGUNAAN WAKTU LUANG
    Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya.Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.

    Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan dirinya sendiri, orangtua, maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’ atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri.

    Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja saja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. Remaja, selain membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di Cetiya dalam rumah ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli, dan lain sebagainya. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati. Misalnya, dengan makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu seluruh anggota keluarga dapat diajak kebaktian di Vihãra setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di Vihãra kita dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para Bhikkhu maupun pandita yang dijumpai. Selain itu, dihari libur, seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama pergi berenang, jalan-jalan ke taman ria atau mal, dan lain sebagainya.

  4. UANG SAKU
    Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.

    Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah. Yaitu:

    1. Anak menjadi boros
    2. Anak tidak menghargai uang, dan
    3. Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.
  5. PERILAKU SEKSUAL
    Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.

    Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.

    Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Sang Buddha telah memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan hidup para remaja. Mereka hendaknya dididik selalu ingat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah latihan untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan mabuk-mabukan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.

PENGARUH PRESTASI PENDIDIKAN AGAMA TERHADAP TINGKAT KENAKALAN SISWA SMA I Kendal

Pembangunan nasional tidak dapat diselesaikan dalam satu atau dua generasi, tetapi harus dilakukan secara berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pembangunan Indonesia pembangunan manusia seutuhnya sebagaimana tercantum dalam GBHN (1993:11) :
"Hakikat Pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia seutuhnya, dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan dan pedoman Pembangunan Nasional. Pembangunan Nasional dilaksanakan merata di seluruh tanah air dan tidak hanya satu golongan atau sebagian dari masyarakat, serta harus benar-benar dirasakan seluruh rakyat sebagai perbaikan tingkat hidup yang berkeadilan sosial, yang menjadi tujuan dan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia".

Dalam pemikiran tersebut, betapa pentingnya generasi muda masa kini yang akan mengambil tongkat estafet pelaksanaan pembangunan yang tangguh. Namun siswa kita sekarang ini nyaris menjadi masalah Nasional yang kritis. Bukan rahasia lagi kenakalan siswa di kota-kota besar dewasa ini merembet ke kampung-kampung dan desa-desa. Para siswa banyak melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, seperti laki-laki memakai kalung, giwang, gelang dan rantai yang berlebihan dan juga pergaulan yang tanpa batas di kalangan siswa yang makin meluas itu merupakan goncangan kultural yang mengancam generasi masa depan bangsa. Kurangnya wibawa dan peranan orang tua dalam pendidikan, serta penggunaan waktu luang yang tidak efektif dikalangan siswa, itu semua merupakan masalah kita.
Masa depan generasi kita banyak yang dibebankan pada dunia pendidikan, sebab pada dasarnya pendidikan adalah tempat penempatan manusia untuk masa depannya. Pelaksanan pendidikan itu perlu dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Keluarga sebagai persekutuan hidup dalam unit kecil, adalah merupakan lingkungan pendidikan utama yang banyak memberikan pengaruh mendalam terhadap kepribadian anak.

Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW. Bersabda sebagai berikut:
?? ??? ??? : ???? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ???? : ?? ????? ???? ????????? ?????? ??????? ????????? ????????? (???? ???????)
Artinya: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci Islam, maka kedua orang tuanyalah yng akan menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi" (HR. Baihaqi) (Jalaluddin, 1986:235).
Pendidikan keluarga diharapkan mampu mendorong masyarakat ke arah suatu bentuk kehidupan yang lebih baik.
Dalam kondisi yang penuh dengan kesibukan pada suatu kehidupan serta ketenangan dan kedamaian hidup merupakan kebutuhan prinsip. Namun hal tersebut sulit terjadi manakala dalam kehidupan keluarga tidak berjalan serasi.
Dalam kondisi demikian, seseorang memerlukan agama sebagai pembimbingnya dan diperlukan pembinaan kehidupan beragama bagi generasi muda dan para siswa untuk meningkatkan rasa tanggung jawabnya dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia, perlu ditangani secara sungguh-sungguh, kontinyu dan tekun. Sedangkan pendidikan agama berfungsi untuk membentuk sikap mental, yang dilakukan dari tingkat kanak-kanak sampai perguruan tinggi sebagai pendidikan formal, yang merupakan bagian dari pendidikan seumur hidup. Oleh karena itu kontinyuitas dari pendidikan seumur hidup tersebut, maka pendidikan informal maupun pendidikan non formal perlu digarap secara efektif sehingga problem kenakalan siswa dapat teratasi. Demikian fungsi sekolah sebagai pusat pendidikan formal maka secara berkelanjutan mempunyai pengaruh timabal balik antara sekolah dengan masyarakat dimana sekolah memiliki beberapa pengaruh yang dapat diserap masyarakat, yaitu:
1. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
2. Membawa virus pembaharuan bagi perkembangan masyarakat.
3. Melahirkan warga masyarakat yang siap dan berbekal, bagi kepentingan kerja di lingkungan masyarakat.
4. Melahirkan sikap-sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat. (Team Dosen IKIP Malang, 1980:80).
Dalam masyarakat juga terdapat pergeseran nilai-nilai kebudayaan dalam sistem nilai masyarakat kita, kegotongroyongan makin bergeser ke arah individualisme, makin deras konsumenisme dalam masyrakat serta godaan materi yang serba ada, penetrasi kebudayaan makin melalui berbagai ragam media (majalah, film, video) lama dirasakan pengaruhnya terhadap prilaku dan tingkah laku anak muda.
Berdasarkan uraian di atas, timbul berbagai permasalahan yang dapat penulis kemukakan lewat berbagai sudut pandang yang berkaitan dengan gejolak usia muda, maka sebagai salah satu andil untuk mengurangi pergeseran, maka dalam penelitian ini penulis memberi judul "Pengaruh Prestasi Pendidikan Agama Terhadap Tingkat Kenakalan Siswa SMA I Kendal", karena masalah tersebut sangat menarik untuk diteliti dalam rangka pengembangan metodologi pendidikan, serta mempertahankan nilai budaya yang berkelanjutan.

RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apa jenis kenakalan yang dilakukan oleh siswa SMA I Kndal?
2. Apa faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kenakalan siswa ?
3. Apakah Ada Pengaruh Prestasi Pendidikan Agama Terhadap Kenakalan Siswa di SMA I Kendal?.

TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui secara jelas tentang bentuk-bentuk atau jenis-jenis kenakalan siswa yang ada diSMA I Kendal.
2. Untuk mengetahui secara jelas tentang faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kenakalan siswa di SMA I kendal.
3. Untuk mengetahui pengaruh prestasi pendidikan agama terhadap kenakalan siswa di SMA I Kendal.

Selasa, 29 April 2008

Pendidik atau Murobi dalam Al Qur`an

Sudah menjadi hal yang lazim bagi setiap tugas atau pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh seseorang, harus adanya kesiapan dan persiapan terlebih dahulu. Sebagai contoh membangun sebuah rumah tidak mungkin bisa terlaksana kecuali ada ahli bangunan yang memiliki pengetahuan yang lengkap tentang semua permasalahan yang terkait dengan bangunan. Demikian pula membangun manusia dengan proses tarbiyah membutuhkan murobbi-murobbi profesional. Proses tarbiyah pekerjaan yang sangat berat lagi tidak mudah, karena tarbiyah berarti mempersiapkan manusia, membentuk dan memformatnya menjadi syakhsyiah (berkepribadian) muslimah da’iah setelah menghilangkan potensi negatif dan mengembangkan potensi positif pada dirinya.

Tarbiyah berarti berinteraksi dengan manusia makhluk yang memiliki banyak dimensi dan permasalahan yang kompleks. Orang yang berinteraksi dengan makhluk selain manusia dengan mudah dapat menundukkan dan mengendalikannya namun berinteraksi dengan manusia tidak dapat disamakan dengan berinteraksi dengan binatang atau makhluk lainnya. Oleh karena itu tidak semua orang dapat mentarbiyah, bahkan orang yang sudah memiliki pemahaman yang bagus, latarbelakang ilmiah yang yang memadai, kemampuan berbicara dan kemampuan berdialog yang baik sekalipun, belum cukup untuk menjadi murobbi sukses. Mengingat mentarbiyah manusia bukan pekerjaan yang ringan maka para murobbi dituntut untuk terus melakukan peningkatan kualitas diri agar menjadi murobbi yang profesional.
Definisi murobbi
Murobbi adalah orang yang melaksanakan proses tarbiyah, murobi dengan fokus kerjanya pada pembentukam pribadi muslim solih muslih, yang memperhatikan aspek pemeliharaan [ar-ria’yah], pengembangan [at-tanmiah] dan pengarahan [at-taujih] serta pemberdayaan [at-tauzhif].
Fungsi murobbi dalam Al-qur’an

Di dalam al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan fungsi murobbi, seperti di dalam surat Al-Baqoroh ayat 151, Ali Imron ayat 164 dan Al-Jumu’ah ayat 2. Di dalam surat Al-Baqoroh ayat 151 Allah SWT. berfirman;

Artinya;

“Sebagaimana Kami telah utus kepada kamu seorang rasul /Muhammad/ membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, membersihkan jiwa-jiwa kamu, mengajarkan kepada kamu al-kitab dan al-hikmah dan mengajarkan kepada kamu apa-apa yang kamu belum mengetahuinya”.

Di dalam ayat ini ada 3 poin penting yaitu; Rosul diutus kepada ummatnya sebagai murobbi /kama arsalna fikum rosulan minkum Rosul dalam melaksanakan fungsi tarbiyah dibekali manhaj dan penguasaannya yang benar dan utuh. [yatlu ‘alaikum ayatina]

Proses tarbiyah yang dilakukan rosul memperhatikan 3 aspek penting yaitu;

a. Mensucikan jiwa [wayuzakkikum] agar terbentuknya ruhiah ma’nwiah [mentalitas sepiritual].

b. Mengajarkan ilmu [wayu’allimukumul kitaba walhikmata] agar terbentuknya fikriah tsaqofiah [wawasan intelektual]

c. Mengajarkan cara beramal [wayu’allimukum malam takunu ta’lamun] agar terbentuknya amaliah harokiah [amal dan harokah].

Jika kita perhatikan ayat di atas, tazkiatun nafs [pembersihan jiwa] menjadi skala prioritas dalam proses tarbiyah sebelum memberikan wawasan intelektualitas dan berbagai aktivitas, karena perubahan dan perbaikan manusia arus dimulai dari perubahan dan perbaikan jiwa sebagaimana. firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 11.

Artinya;

“sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu merubah keadaan dirinya”.

walaupun murobbi tidak boleh mengabaikan sisi-sisi yang lainnya yaitu sisi intelektualitas dan aktivitas secara seirnbang dan berkesinambungan.
Fungsi murobbi dalam menjalankan proses tarbiyah

Murobbi dalam melaksanakan proses tarbiyah atas mutarobbi berfungsi sebagai;

1. Walid [orang tua] dalam hubungan emosional.

2. Syaikh [bapak spiritual] dalam tarbiyah ruhiah

3. Ustadz [guru] dalam mengajarkan ilmu

4. Qoid [pemimpin]dalam kebijakan umum da’wah.

Agar fungsi-fungsi ini dapat di perankan oleh murobbi maka murobbi dituntut untuk memenuhi kriteria dan sifat-sifat murobbi sukses.

Kriteria dan sifat-sifat murobbi sukses

Diantara kriteria dan sifat-sifat murobbi sukses sebagai berikut;

1. Memiliki ilmu.

Ilmu yang harus dimiliki seorang murobbi meliputi banyak cabang ilmu pengetahuan, diantaranya:

a. Ilmu syar’i; salah satu tujuan tarbiyah dalam islam menjadikan manusia agar beribadah kepada Allah ibadah baru akan tercapai hanya dengan ilmu syar’i. Yang dimaksud dengan ilmu syar’i di sini tidak berarti bahwa seorang murbbi harus alim di bidang ilmu syar’i atau sepesialis di bidang ulum syar’iah akan tetapi ilmu syar’i yang harus dimiliki seorang murobbi adalahilmu syar’i yang dengannya ia mampu membaca, membahas dan mempersiapkan terna-terna syar’i serta memiliki ilmu-ilmu dasar yang kemudian ia dapat mengembangkan potensi syar’inya dengan semangat belajar.

b. Ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhannya sebagai murobbi tentang situasi dankondisi zaman dan masyarakatnya.

c. Psikologi, seperti karakter manusia sesuai dengai usianya; anak-anak, remaja, dan orang dewasa, tentang motivasi naluri dan potensi manusia serta membaca tulisan-tulisan dan kajian-kajian tentang kelompok masyarakat yang dibutuhkan dalam proses tarbiyah. Ini tidak berarti seorang murobbi harus psikolog atau ahli di bidang ilmu pendidikan, akan tetapi yang diperlukan murobbi adalah dasar-dasar umum ilmu jiwa dan memiliki kemampuan memahami hasil kajian dan penelitian di bidang ini.

d. Mengetahui kesiapan, kemampuan dan potensi mutarobbi, dalam hal ini Rasul SAW. murobbi yang sangat tahu tentang kondisi, potensi, kesiapan dan kemampuan mutarobb, sebagai contoh ketika Rosul memberikan sarannya kepada Abu Dzar al-Gifari di saat ia minta jabatan kepada rosul dalam sabdanya

’Wahai Abu Dzar saya lihat kamu dalam hal ini lemah, dan saya mencintai kamu seperti saya mencintai diri saya sendiri, kamu tidak layak untuk memimpin banya dua orang sekalipun dan tidak mampu mengelola harta milik anak yatim”.[H.R Muslim].

e. Mengetahui lingkungan di mana mutarobbi berada/tinggal, karena lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kepribadaian [mutarobbi], pengetahuan tentang lingkungan mutarobbi sangat penting bagi mutarobbi sebagai bahan dalam proses tarbiyah.

2. Murobbi harus lebih tinggi kualitasnya dari mutarobbi; dalam proses tarbiyah terjadi timbal balik antara murobbi dan mutarobbi, terjadi proses memberi dan mengambil menyampaikan dan menerima, oleh karenanya murobbi harus lebih tinggi dari mutarobbi, tidak berarti murobbi harus lebih tua dari mutarobbi sekalipun faktor usia penting akan tetapi yang lebih penting kemampuan, pengalaman dan keterampilan murobbi harus lebih tinggi dari mutarobbinya. Karenanya Rosul orang memiliki sifat-sifat di atas semua manusia di berbagai sisi.

3. Mampu mentransformasikan apa-apa yang dimiliki; banyak orang orang besar yang tidak mampu memberikan dan menyampaikan apa-apa yang dimilikinya, karenanya ia tidak dapat mentarbiyah, walaupun memiliki kelebihan dari sisi ilmu pengetahuan, moralitas, mentalitas dan emosional, akan tetapi karena alasan tertentu mereka tidak mendapatkan pengalaman lapangan khususnya di medan tarbiyah ia hanya memiliki wawasan teoritis tidak memiliki pengalaman praktis. Orang-orang seperti ini sering dijumpai di acara-acara umum seperti kajian ilmiah, seminar, dialog wawancara dan lain-lainnya mereka pandai berbicara, kuat argumentasinya dan penyampaian materinya menarik, tapi semua itu belum cukup untuk menjadikan seseorang mampu mentarbiyah. Sering kali kita terpesona dengan orang-orang seperti itu bahkan menganggap mereka memiliki potensi tarbiyah yang paling baik tanpa melihat sisi-sisi yang lain.

4. Memiliki kemampuan memimpin [al-qudroh ‘alal qiyadah]; kemampuan memimpin menjadi salah satu kriteria asasi bagi murobbi.dan tidak semua orang memilki kemampuan ini, ada orang yang dapat mengambil keputusan managerial, dan ada pula yang mampu memanage perusahaan atau yayasan, akan tetapi qiyadah [kepemmpinan] lebih dari itu, khususnya proses tarbiyah tidak bisa dipaksakan, jika militer atau penguasa dapat menggiring manusia dengan tongkat dan senjata maka seorang yang tidak memiliki kemampuan memimpin tidak akan bisa mentarbiyah orang lain.

5. Memiliki kemampuan mengevaluasi [al-qudroh ‘alal mutaba’ah]; proses tarbiyah bersifat terus menerus dan berkesinambungan tidak cukup denan arahan-arahan sesaat dan temporer dan tarbiyah membutuhkan evaluasi yang berkesinambungan.untuk mengetahui berhasil atau tidaknya proses tarbiyah maka evaluasi suatu hal yang tidak boleh diabaikan.murobbi mengevaluasi dirinya, manhaj, sarana, media, metoda dan mutarobbi secara intensif dan integral.
6. Memiliki kemampuan melakukan penilaian [al-qudroh ‘alat taqwim]; taqwim dalam proses bagian yang tidak terpisahkan dari tarbiyah itu sendiri, murobbi harus melakukan penilaian terhadap;
a. Menilai peserta tarbiyah untuk mengetahui kemampuannya, agar murobbi dapat mentarbiyah sesuai dengan keadaannya.
b. Menilai peserta tarbiyah untuk mengetahui sejauh mana pencapaian muwasofat pada dirinya dan apa pengaruhnya dalam kehidupan kesehariannya.
c. Menilai program, tugas dan kendala serta solusinya.
d. Menilai permasalahan tarbawiah untuk ditangani secara profesional dan proporsional.
Taqwim yang dilakukan oleh murobbi harus dilakukan secara ilmiah dan obyektif dengan berpegang pada kaidah-kaidah taqwim yang telah baku, bukan kesan pribadi atau emosional.
7. Memiliki kemampuan membangun hubungan emosional [al-qudroh ‘ala binaal-‘laqoh al-insaniah]. Hubungan antara murobbi dan mutarobbi harus dilandasi kasih sayang dan cinta karena Allah, maka murobbi yang tidak menanamkan kasih sayang dan kecintaan ke dalam jiwa mutarobbinya, bisa dipastikan bahwa semua pelajaran dan pesan-pesannya yang disampaikan kepadanya akan berakhir dengan berakhirnya kata-kata murobbi dan tidak akan masuk kedalam hati, apa lagi untuk menjadi ilmu yang mengkristal di dalam jiwa. Allah SWT.telah mengingatkan didalam surat Ali Imron ayat 159:
”Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadqp mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka mohonkanlah ampunan hagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadanya”.
Penutup
Proses tarbiyah adalah pekerjaan yang tidak mudah, oleh karena itu diperlukan kesiapan dan persiapan. Dengan dilandasi dengan pemahaman yang utuh tentang makna tarbiyah, insya Alloh akan terbentuk pribadi-pribadi muslim yang syamilah mutakamilah. Disinilah peran seorang murobi diperlukan yang diharapkan mampu menjalankan fungsinya sebagai walid, syeikh, ustadz ataupun qoid. Semoga Alloh SWT memberikan kekuatan dan bimbingan kepada penerus dakwah ini.

Peran MGMP Bagaimana?

Bagaimana eksistensi, peranan, dan kinerja MGMP sesudah meraih legalitas dari pemerintah daerah?. Yang pasti, yang pertama dan utama, MGMP tidak akan lagi dihadang oleh hambatan birokratis seperti selama ini terjadi, karena sudah mengantongi legitimasi dari Dinas Pendidikan . Namun peranan dan kinerja MGMP masih harus ditunggu (wait and see) eksistensinya. Paling tidak, setumpuk asa dicurahkan kepada wadah profesionalisme guru di tingkat SMA Kendal itu dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di tingkat menengah.

Sebagaimana kita ketahui, MGMP merupakan suatu forum atau wadah profesional guru mata pelajaran yang berada pada suatu wilayah kabupaten/kota/kecamatan/sanggar/gugus sekolah. Ruang lingkupnya meliputi guru mata pelajaran pada SMA Negeri dan Swasta, baik yang berstatus PNS maupun Swasta dan atau guru tidak tetap/honorarium. Prinsip kerjanya adalah cerminan kegiatan "dari, oleh, dan untuk guru" dari semua sekolah. Atas dasar ini, maka MGMP merupakan organisasi nonstruktural yang bersifat mandiri, berasaskan kekeluargaan, dan tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan lembaga lain.

Tujuan diselenggarakannya MGMP ialah : Pertama, untuk memotivasi guru guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan, dan membuat evaluasi program pembelajaran dalam rangka meningkatkan keyakinan diri sebagai guru profesional; Kedua, untuk menyatakan kemampuan dan kemahiran guru dalam melaksanakan pembelajaran sehingga dapat menunjang usaha peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan; Ketiga, untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dan dialami oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan mencari solusi alternatif pemecahannya sesuai dengan karakteristik mata pelajaran masing-masing, guru, kondisi sekolah, dan lingkungannya; Keempat, untuk membantu guru memperoleh informasi teknis edukatif yang berkaitan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan kurikulum, metodologi, dan sistem pengujian yang sesuai dengan mata pelajaran yang bersangkutan; Kelima, saling berbagi informasi dan pengalaman dari hasil lokakarya, simposium, seminar, diklat, classroom action research, referensi, dan lain-lain kegiatan profesional yang dibahas bersama-sama; Keenam, mampu menjabarkan dan merumuskan agenda reformasi sekolah (school reform), khususnya focus classroom reform, sehingga berproses pada reorientasi pembelajaran yang efektif.

Selain itu, MGMP pun dituntut untuk berperan sebagai : Pertama, reformator, dalam classroom reform, terutama dalam reorientasi pembelajaran efektif; Kedua, mediator, dalam pengembangan dan peningkatan kompetensi guru, terutama dalam pengembangan kurikulum dan sistem pengujian; Ketiga, supporting agency, dalam inovasi manajemen kelas dan manajemen sekolah; Keempat, collaborator, terhadap unit terkait dan organisasi profesi yang relevan; Kelima, evaluator dan developer school reform dalam konteks MPMBS; dan Terakhir, clinical dan academic supervisor, dengan pendekatan penilaian appraisal.

Berdasarkan tujuan dan peran di atas, maka berikut ini adalah beberapa fungsi yang diemban MGMP, yaitu: Pertama, Menyusun program jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek serta mengatur jadwal dan tempat kegiatan secara rutin; Kedua, memotivasi para guru untuk mengikuti kegiatan MGMP secara rutin, baik di tingkat sekolah, wilayah, maupun kota; Ketiga, meningkatkan mutu kompetensi profesionalisme guru dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengujian/evaluasi pembelajaran di kelas, sehingga mampu mengupayakan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan di sekolah; Keempat, mengembangkan program layanan supervisi akademik klinis yang berkaitan dengan pembelajaran yang efektif; Kelima, mengembangkan silabus dan melakukan Analisis Materi Pelajaran (AMP), Program Tahunan (Prota), Program Semester (Prosem), Satuan Pelajaran (Satpel), dan Rencana Pembelajaran (Renpel); Keenam, mengupayakan lokakarya, simposium dan sejenisnya atas dasar inovasi manajemen kelas, manajemen pembelajaran efektif (seperti : PAKEM-Pendekatan Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan-, joyful and quantum learning, hasil classroom action research, hasil studi komparasi atau berbagai studi informasi dari berbagai nara sumber, dan lain-lain.); Ketujuh, merumuskan model pembelajaran yang variatif dan alat-alat peraga praktik pembelajaran program Life Skill, baik Broad Based Education (BBE) maupun High Based Education (HBE); Kedelapan, berpartisipasi aktif dalam kegiatan MGMP Propinsi dan AGMP nasional serta berkolaborasi dengan MKKS dan sejenisnya secara kooperatif; Kesembilan, melaporkan hasi kegiatan MGMP secara rutin setiap semester kepada Dinas Pendidikan Kota Bandung; Kesepuluh, memprakarsai pembentukan Asosiasi Guru Mata Pelajaran (AGMP) dan menyusun AD/ART MGMP Kendal.

Dari paparan di muka, mau tidak mau, cepat atau lambat, disadari atau tidak, langsung atau tidak langsung, memberdayakan MGMP adalah sebuah keniscayaan. Terlebih lagi pada tahun pembelajaran 2004-2005, yang mulai berlaku efektif Juli 2004 nanti, di mana Kurikulum 2004 (lebih populer dengan KBK, Kurikulum Berbasis Kompetensi) digelar secara nasional Kemudian Muncul Kemabli sebagai Penyempuran Kurikulum dengan Sebutan KTSP yang Mulai tahun 2007 -2008 ini semua sekolah wajib mengunakan kurikulum terbaru itu, maka memberdayakan MGMP sebagai sebuah wadah profesionalisme guru akan menjadi salah satu barometer keberhasilan pendidikan menengah khususnya dan dunia pendidikan umumnya. Kiprahnya ditunggu oleh para user, dinantikan kehadirannya oleh para guru, para siswa, seluruh orang tua siswa, masyarakat, dan siapa saja yang peduli terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.